web 2.0

Selasa, 03 Mei 2011

Resume; Novel Totto-Chan (Gadis Cilik di Jendela)


Resume; novel Totto-chan (gadis cilik di jendela)

Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela ini memang bukan terbilang buku baru. Tapi jika ditilik isinya, buku ini tidak mengenal kata out of date. Tetsuko Kuroyanagi sangat piawai dalam mengemas kisah pengalaman hidupnya menjadi sebuah cerita yang lucu dan sarat makna.

 Nama Totto-chan sebenarnya adalah Tetsuko. Sebelum ia lahir, semua kawan Mama-Papa dan kerabat mereka yakin  bayi  yang  akan  lahir  itu  laki-laki.  Bayi  itu  anak pertama Mama-Papa, jadi mereka percaya pada pendapat orang-orang itu. Mereka pun memutuskan menamai bayi mereka Toru. Ketika ternyata yang lahir bayi perempuan, mereka agak kecewa. Tapi mereka menyukai huruf Cina untuk toru  (yang berarti menembus, mengalun hingga jauh, jemih, dan menggema seperti suara) maka mereka menggunakan huruf itu untuk nama  anak perempuan dengan  memakai  ucapan  versi  Cina  tetsu  dan menambahkan akhiran ko  yang biasa digunakan untuk nama anak perempuan. Jadi, semua orang memanggilnya Tetsuko-chan (chan adalah  bentuk akrab  dari  kata  san  yang ditambahkan setelah nama  orang). Tapi  bagi si gadis ciiik, nama  itu tidak terdengar seperti Tetsuko-chan.  Jadi setiap  kali seseorang bertanya  siapa namanya, ia akan menjawab,'Totto-chan." Ia bahkan mengira chan adalah bagian dari namanya. Papa terkadang memanggilnya Totsky, seolah ia anak laki-laki.  Papa  suka  berkata,  'Totsky!  Sini,  bantu  Papa membuang serangga-serangga ini dari pohon mawar!" Namun,    kecuali    Papa  dan    Rocky,  semua  orang memanggilnya  Totto-chan,  dan  meskipun  ia  menuliskan Tetsuko sebagai namanya di buku tulisnya di sekolah, gadis cilik itu selalu menganggap dirinya Totto-chan.

Buku ini bercerita tentang Totto-chan, gadis cilik yang harus dikeluarkan dari sekolahnya di usia 7 tahun. Keingintahuannya yang besar tentang sesuatu, membuat  Totto-chan kecil berbeda dan dipandang aneh jika dibandingkan dengan teman-temannya. Mulai dari membuka meja,            mengeluarkan buku catatan,  lalu  menutup meja  dengan membantingnya. Kemudian dia membuka meja lagi, memasukkan kepalanya, mengeluarkan pensil,  cepat-cepat  membanting tutupnya,  lalu menulis 'A'. Kalau tulisannya jelek atau  salah, dia akan membuka meja lagi, mengeluarkan penghapus, menutup meja, menghapus huruf itu, kemudian membuka dan menutup meja lagi untuk menyimpan penghapus̶ semua itu dilakukannya dengan cepat sekali.Ketika sudah selesai mengulang menulis 'A', dia memasukkan kembali semua peralatannya ke bawah meja, satu per satu. Dia memasukkan pensil, menutup meja, lalu membukanya lagi untuk memasukkan buku catatan. Kemudian, ketika dia sampai ke huruf berikut- nya, dia mengulang semuanya̶mula-mula buku catatan, lalu pensil, lalu penghapus̶setiap kali melakukan itu dia membuka dan menutup mejanya. Kemudian memanggil pengamen jalanan untuk memainkan musiknya di dalam kelas, yang  biasanya  melewati  sekolah  tanpa  suara,  memainkan musik mereka keras-keras di depan murid-murid. Maka  terdengarlah  lengking nyaring klarinet, bunyi gong, genderang, dan samisen̶alat musik petik khas Jepang.  Guru yang  malang itu hanya bisa menunggu dengan sabar sampai kegaduhan selesai. Akhirnya,  setelah  lagu  selesai,  para  pemusik  itu  pergi dan murid-murid kembali  ke tempat duduk masing-masing, sampai berbicara dengan burung Walet yang bertengger di pohon samping kelasnya. Alhasil, Totto-chan dikeluarkan dari sekolahnya. Kemudian, oleh ibunya ia dimasukkan ke sekolah Tomoe Gakuen yang didirikan oleh Sosaku Kobayashi.

Sekolah yang berlambang dua simbol kuno berbentuk koma yang berwarna hitam dan putih ini memang lain dari sekolah yang lain. Kegiatan belajar mengajar berlangsung di dalam gerbong kereta api yang sudah tidak dipakai lagi. Jumlah siswanya hanya sekitar lima puluh orang. Sekolah ini juga tidak mengharuskan siswanya memakai seragam yang rapi dan bersih, malah sebaliknya sekolah ini menganjurkan untuk memakai pakaian yang sudah usang untuk pergi ke sekolah.

 Ketika sampai di sana Totto-chan hendak bertanya pada Mama apa artinya ‘'Tomoe" tapi matanya melihat sekilas sesuatu yang membuatnya mengira dirinya  sedang bermimpi. Dia berjongkok lalu mengintip ke  balik semak-semak agar bisa melihat lebih jelas. Dia tak bisa mempercayai penglihatannya. Untuk ruang  kelas, sekolah Itu menggunakan enam gerbong kereta yang sudah tidak terpakai. Totto-chan merasa seperti sedang bermimpi. Bersekolah di gerbong kereta. Deretan Jendela gerbong-gerbong itu berkilauan  di tempa sinar matahari pagi. Tapi sepasang mata gadis cilik berpipi merah jambu yang memandanginya dari balik semak-semak lebih bercahaya lagi. Semua gerbong kereta itu hening, karena saat itu jam pelajaran pertama untuk semua kelas sudah dimulai. Halaman sekolah yang tidak begitu luas tidak dikelilingi tembok tapi pepohonan.  Di sana-sini ada petak-petak bunga dengan bunga-bunga merah dan kuning. Kantor Kepala Sekolah tidak terletak di dalam gerbong, tapi di sisi kanan sebuah bangunan berlantai satu. Bangunan itu terletak di atas tangga batu berbentuk setengah lingkaran yang tingginya kira-kira tujuh undakan, tepat di seberang gerbang sekolah.

Bersekolah di sana adalah hal yang menyenangkan bagi Totto-chan dan kawan-kawannya. Jika di sekolah lain setiap anak diberi jatah duduk di satu kursi tertentu, maka di Tomoe, mereka bebas memilih di mana mereka akan duduk.

Bersekolah di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah itu lebih aneh lagi. Di sekolah lain setiap anak diberi satu bangku  tetap.  Tapi  di  sini  mereka  boleh  duduk  sesuka  hati,  di mana saja, kapan saja. Setelah lama berpikir dan memandang sekeliling baik-baik, Totto-chan memutuskan duduk  di samping anak perempuan yang datang sesudahnya  tadi pagi karena anak itu mengenakan  pinafore̶rok rangkapan untuk bermain̶bergambar kelinci bertelinga panjang. Yang paling aneh dari sekolah ini adalah pelajarannya. Di sekolah-sekolah lain, biasanya setiap jam pelajaran  diisi dengan  satu mata  pelajaran, misalnya  bahasa  Jepang untuk jam pelajaran pertama, yaitu ketika murid-murid hanya belajar bahasa Jepang; kemudian, misalnya, pelajaran berhitung di  jam  pelajaran kedua, yaitu ketika murid-murid hanya belajar berhitung. Tapi di sini sangat  berbeda. Di awal jam pelajaran  pertama, Guru membuat daftar semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Kemudian  Guru berkata, "Sekarang, mulailah dengan salah satu dari ini. Pilih yang kalian suka." Jadi tidak masalah apakah kita mulai dengan belajar  bahasa Jepang atau berhitung atau yang lain. Murid yang  suka mengarang langsung menulis sesuatu, sementara di belakangnya,  anak yang suka fisika merebus sesuatu dalam tabung percobaan di atas api berbahan bakar spiritus. Letupan-letupan kecil biasa terdengar di kelas-kelas itu, kapan saja. Metode pengajaran ini membuat para guru bisa mengamati̶sejalan dengan waktu ketika anak-anak melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi̶bidang apa yang diminati anak-anak, termasuk cara berpikir dan karakter mereka. Ini cara ideal bagi para guru untuk benar-benar mengenal murid-murid mereka. Bagi murid-murid, memulai hari dengan mempelajari sesuatu yang paling mereka sukai  sungguh sangat menyenangkan. Fakta  bahwa  mereka punya  waktu  seharian  untuk  mempelajari  materi-materi  yang  tidak mereka sukai, menunjukkan bahwa entah bagaimana  mereka bisa  bertahan  menghadapi peiajaran-pelajaran itu. Jadi belajar di sekolah ini pada umumnya bebas dan mandiri.  Murid  bebas  berkonsultasi  dengan  guru  kapan  saja dia merasa perlu. Guru akan mendatangi murid jika diminta dan  menjelaskan  setiap hal sampai anak  itu benar-benar mengerti.  Kemudian mereka diberikan latihan-latihan lain untuk  dikerjakan  sendiri. Itulah belajar dalam arti yang sebenar-benarnya, dan itu berarti tak ada murid yang duduk menganggur dengan sikap tak peduli sementara guru sedang menjelaskan sesuatu.

Sekolah ini memberikan kebebasan kepada siswanya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Setiap siswa bebas memilih pelajaran apa yang ingin dipelajarinya lebih dulu pada hari itu. Ada yang memilih membuat puisi dan ada  juga yang melakukan eksperimen fisika. Metode ini memudahkan guru untuk mengetahui bidang apa yang diminati muridnya, termasuk mengetahui karakter siswa.
Belajar di Tomoe benar-benar  menarik dan menyenangkan. Untuk makan siang saja harus ada ”sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan” agar anak-anak makan dengan gizi seimbang. Selain itu, jika sebelum makan orang-orang Jepang selalu mengucapkan kata ”Ittadakimasu” yang artinya selamat makan, maka di Tomoe sebelum makan mereka menyanyikan lagu ”Yuk kunyah-kunyah baik-baik semua makananmu” baru setelah itu mereka mengucapkan ”Ittadakimasu”.
Setelah makan siang, biasanya mereka berjalan-jalan. Kemudian, ketika mereka melewati kebun bunga, guru akan menceritakan kepada mereka bagaimana bunga-bunga sawi bisa bermekaran. Setiap  hari  di  Tomoe  Gakuen  selalu  penuh  kejutan  bagi  Totto-chan.  Ia  begitu  bersemangat  pergi  ke  sekolah  hingga merasa fajar tidak  pernah cukup cepat datang. Dan  setiap kali pulang, ia tak bisa  berhenti berbicara.  Ia akan  bercerita  pada Rocky, Mama, dan  Papa  tentang semua yang  dilakukannya di sekolah hari itu, betapa asyiknya  semua kegiatannya, dan betapa sekolahnya selalu penuh kejutan. Sampai akhirnya, Mama harus berkata, "Cukup, Sayang. Berhentilah  bicara  dan  makan kuemu." Bahkan ketika sudah terbiasa dengan sekolah barunya,Totto-chan masih saja punya segudang cerita untuk diceritakan setiap hari. Mama bersyukur karena Totto-chan sepertinya menikmati sekolahnya. Pada  suatu hari, dalam perjalanan ke  sekolah naik  kereta api, Totto-chan tiba-tiba berpikir apakah Tomoe punya lagu sekolah. Karena ingin tahu secepat mungkin, ia tak sabar menunggu sampai kereta tiba di stasiun terdekat dengan sekolahnya. Meskipun masih dua stasiun lagi, Totto-chan sudah bangkit lalu  berdiri di depan pintu, siap melompat turun begitu kereta masuk  ke Stasiun Jiyugaoka. Seorang wanita  yang naik  di stasiun
sebelum Totto-chan melihat gadis cilik itu berdiri tegang di  depan  pintu.  Tentu  saja  si  wanita  mengira  gadis  cilik itu akan turun. Ketika Tottto-chan tetap berdiri tak bergerak—berpose seperti pelari yang  siap melaju wanita itu bergumam, "Anak itu kenapa, ya?" Begitu kereta memasuki Stasiun Jiyugaoka, Totto-chan langsung melompat turun dan melesat cepat.  Ketika kondektur muda meneriakkan, "Jiyugaoka! Jiyugaoka!" dengan satu kaki meninjak peron sebelum kereta benar-benar berhenti Totto-chan suda menghilang di balik gerbang keluar.

Tomoe mengajarkan banyak hal kepada anak-anak. Dengan berenang bersama tanpa busana, kepala sekolah ingin mereka paham bahwa semua tubuh itu indah. Jika mereka yang bertubuh cacat ikut berenang, maka rasa malu akan kekurangannya, akan hilang sedikit demi sedikit.
Selain itu, Kepala Sekolah juga memberikan motivasi kepada anak yang tidak mampu bercerita tentang suatu hal sampai akhirnya anak itu mampu  bercerita. Beliau juga mampu meyakinkan anak-anak bahwa mereka adalah anak yang baik dengan selalu mengucapkan ”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu kan?”.
Kepala Sekolah Kobayashi menghargai sesuatu yang bersifat alamiah  dan ingin karakter anak-anak berkembang secara alami. Beliau sangat yakin bahwa seorang anak dilahirkan dengan watak baik. Oleh sebab itu, Kepala Sekolah Kobayashi berusaha menemukan hal itu dan mengembangkannya agar anak-anak dapat tumbuh dengan kepribadian yang khas.
Kehidupan sehari-hari Tomoe juga mengajarkan bersikap sopan kepada orang lain dan tidak boleh melakukan hal yang membuat orang lain kesal. Bahkan, membuang sampah di tempat yang benar pun dipelajari dari Tomoe.
Buku Totto-chan menggambarkan dunia anak-anak yang penuh dengan kepo-losan dalam memandang suatu hal. Bahasa yang digunakan lugas dan khas anak-anak. Ketika kepala sekolah mengatakan bahwa akan datang gerbong kereta baru untuk kelas mereka, mereka berpikir akan dibuat rel sehingga gerbong itu sampai di sekolah me-reka. Padahal sebenarnya gerbong itu diangkut oleh trailer yang ditarik oleh traktor. Ketika mereka belajar bagaimana bunga sawi mekar, mereka mengatakan, ”Ternyata benang sari tidak mirip benang ya?”.
Buku yang merupakan kritik terhadap sistem pendidikan yang keras di Jepang ini, berhasil merebut perhatian sebagian besar masyarakat Jepang. Pada tahun pertama buku ini diterbitkan, buku ini terjual hingga 4.500.000 eksemplar.  Dalam buku ini dijelaskan bahwa sistem pendidikan di Jepang yang terkenal keras dan disiplin, bukanlah jaminan bahwa seorang anak akan berkembang dengan baik. Bahkan, bisa jadi seseorang yang tidak kuat dengan sistem tersebut akan mengalami tekanan mental dan bisa menjadi depresi.
Begitu juga dengan sekolah konvensional di Indonesia yang mengharuskan siswa hadir pada pukul 07.00 tepat dan pulang pada waktu yang ditentukan. Sistem ini juga belum tentu akan menghasilkan output yang baik. Banyak siswa yang merasa tertekan dengan apa yang dilakukan oleh sekolah dan standar kelulusan yang semakin merangkak naik dari tahun ke tahun. Jika dulu, ketika kita duduk di bangku sekolah, kita lupa mengerjakan PR atau nilai ulang-an jelek, maka kita akan mendapatkan hukuman. Sangat berbeda dengan Tomoe yang membiarkan muridnya berkembang de-ngan sendirinya sesuai minat yang dimiliki.

Sekolah konvensional dinilai tidak dapat mengakomodasi semua kecerdasan yang dimiliki siswa. Bahkan, seringkali sekolah konvensional mematikan kecerdasan siswa yang luar biasa. Dalam hal ini, Sekolah Tomoe membiarkan siswanya berkembang sesuai dengan apa yang dimiliki. Selain membuat siswa merasa nyaman, kecerdasan yang mereka miliki dari lahir akan semakin terasah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Paling Banyak Dikunjungi

Total Tayangan Laman