web 2.0

Minggu, 17 April 2011

Makalah MSI


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam merupakan agama yang sangat komplek. Sehingga dalam memahaminya pun dibutuhkan cara yang tepat agar dapat tercapai suatu pemahaman yang utuh tentang Islam. Di Indonesia sejak Islam masuk pertama kali sampai saat ini telah timbul berbagai macam pemahaman yang berbeda mengenai Islam. Sehingga dibutuhkanlah penguasaan tentang cara-cara yang digunakan dalam memahami Islam.

Maka, dalam makalah ini penulis akan mencoba membahas mengenai metodologi serta beberapa hal yang berkaitan untuk memahami Isalam di Indonesia.

B. Rumusan Pembahasan
Dari latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Apakah Metodologi ?
2. Kegunaan mempelajarinya ?
3. Metode Studi Islam ?

4. Hubungan Metodologi Study Islam dengan Ilmu-ilmu lainnya ?

BAB II
METODOLOGI
A. Pengertian Metodologi

Metodologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu metodos berarti “cara atau jalan” dan logos yang berarti ilmu. Dari kedua suku kata itu, metodologi berarti ilmu tentang jalan atau cara, untuk memudahkan pemahaman tentang Metodologi, terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian Metode. Metode Study Islam dapat di definisikan sebagai urutan kerja yang sistematis, terencana, dan merupakan hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Lalu, yang dimaksud metodologi sendiri berarti ilmu tentang cara-cara yang digunakan manusia untuk sampai pada tujuannya. Metodologi adalah cara-cara yang digunakan manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. Metodologi disebut pula sebagai science of methods yaitu ilmu yang membicarakan cara, jalan, atau petunjuk praktis dalam penelitian, sehingga metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode, yang pada intinya metode studi Islam mengarah pada cara pandang manusian untuk melihat islam dari berbagai aspek.

B. Studi Islam
Masih terdapat perdebatan di kalangan para ahli apakah studi islam dapat dimasukkan kedalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat-sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Pembahasan disekitar masalah ini banyak dikemukakan oleh para pemikir Islam belakangan ini, misalnya jika penyelenggaraan dan penyampaian studi Islam hanya mendengarkan dakwah keagamaan di dalam kelas lalu apa bedanya dengan kegiatan pengajian dan dakwah yang sudah ramai deselenggarakan di luar bangku kuliah? Sehingga, pangkal tolak kesulitan pengembangan wilayah kajian studi Islam berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan anatar yang normativitas dan historisitas. Pada dataran normativitas kelihatan Islam kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran historisitas tampaknya tidaklah salah. Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa dari segi normative sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur'an dan Hadist, maka Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya, padigma ilmu pengetahuan, yaitu pradigma analitis, kritis, metodologis, histories, dan empiris. Sebagai agama, Islam lebih bersifat memihak, apologi, dan subjektif, sedangkan jika dilihat dari segi histories, yakni Islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atau Islamic Studies.

Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normative, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan dengan urusan akidah dan muamalah sedangkan ketika Islam dilihat dri sudut histories atau sebagaimana yang tampak dalam Islam tampila sebagai sebuah disiplin ilmu ( Islamic studies )

Studi Islam sangat penting karena sangat berperan dalam masyarakat. Studi Islam bertujuan untuk mengubah pemahaman dan penghayatan ke Islaman mayarakat inter dan antar agama. Adapun perubahan yang diharapkan adalah formalisme kepahaman menjadi sebuah substantive keagamaan dan sikap enklusifisme menjadi sikap universalisme.
Secara garis besar, tujuan studi Islam adalah mempelajari secara mendalam tentang hakikat Islam, sebagaimana posisinya dengan agama lain, dan bagaimana hubungannya dengan dinamika perkembangan yang terus berlangsung.

Agama Islam diturunkan oleh Allah SWT SWT dengan temuan untuk membimbing, mengarahkan, dan menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat manusia. Agama-agama dan budaya yang pada awalnya hanyaberdasarkan kepada daya nalar dan tidak sedikit yang mengarah pada penyimpangan, diarahkan oleh Islam menjadi agama monoteisme yang benar. Namun bukan berarti agama Islam tidak sesuai dengan akal budi. Justru dalam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk mendayagunakan akal budinya secara maksimal, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu Allah SWT.

Studi Islam mempelajari secara mendalam terhadap sumber dasar ajaran agama Islam yang tetap abadi dan dinamis serta aktualisasinya sepanjang sejarah. Studi ini berdasar kepada asumsi bahwa agama Islam adalah agama samawi terakhir yang membawa ajaran yang bersifat final, dan mampu memecahkan persoalan kehidupan manusia, menjawab tantangan, dan senantiasa actual sepanjang masa. Namun demikian, aktualitas ajaran ini sering harus berhadapan dengan beraneka ragam permasalahan dan tantangan yang tidak kecil dan ringan. Pada kondisi semacam ini, studi Islam berusahan untuk memberikan kontribusinya dalam menjawab aneka persoalan dan tantangan yang ada.

Studi Islam mempelajari secara mendalam terhadap pokok isi ajaran Islam yang asli, dan bagaimana operasionalisasi dalam pertumbuhan budaya dan peradaban Islam sepanjang sejarah.

Studi Islam mempelajari secara mendalam terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran Islam dan bagaimana perwujudannya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini.

C. Metode Memahami Islam


Studi Islam tidak dapat dilakukan apabila Islam tidak dipahami secara menyeluruh. Memahami Islam secara menyeluruh sangat penting walaupun tidak mendetail. Untuk itu, diperlukan pedoman-pedoman yang dapat dijadikan sandaran, patokan atau petunjuk dalam memahami Islam secara baik dan benar. Pedoman-pedoman tersebut mencakup:

Pertama, Islam harus dipelajari dari sembernya yang asli, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, kemudian dihubungkan dengan kenyataan histori, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Kekeliruan dalam memahami Islam dapat terjadi karena orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Al-Qur'an dan as- Sunnahh, atau melalui pengenalan dari kitab-kitab fiqih dan tasawuf. Mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme yang telah tercampuri oleh hal-hal yang tidak islami.

Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak secara parsial atau terpisah-pisah. Artinya Islam dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang utuh tidak secara sebagian saja. Sebab dengan memahami secara parsial akan menimbulakan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.

Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan atau literature yang ditulis oleh para ulama besar atau para sarjana yang benar-benar memiliki pemahaman Islam yang baik. Berkaitan dengan yang ketiga ini, timbul permasalahan dalam literature yang ditulis oleh kaum orientalis. Karena bagi mereka, Islam hanya sekedar dipahami yang kemudian dicari-cari kelemahannya. Berkenaan dengan hal tersebut, seseorang yang mempelajari Islam hendaklah bersikap kritis, selektif, dan penuh kehati-hatian serta telah kuat dalam memahami dan menjalankan dasar-dasar keislamannya.

Keempat, kesalahan sementara orang mempelajari Islam adalah dengan jalan mempelajari kenyataan umat Islam sendiri, bukan agamanya. Sikap konservatif sebagian golongan Islam, keawaman, kebodohan, dan keterbelakangan itulah yang dinilai sebagai Islam. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, Islam mengajarkan kesatuan dan persatuan, kebersamaan, saling menolong, dan saling mengasihi.
Uraian singkat mengenai metode memahami yang pada intinya Islam harus dilihat dari berbagai dimensi.[1]
Apabila Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja, maka yang akan telihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang sebenarnya bersegi banyak. Sehingga mengakibatkan kesulitan dalam pemahaman secara keseluruhan. Buktinya ialah Al-Qur'an. Kitab ini memiliki banyak dimensi. Satu dimensi misalnya, mengandung aspek-aspek linguistic dan sastra. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan. Al-Qur'an mengajak kita memahami Islam secara komprehensif. Berbagai aspek yang ada dalam Al-Qur'an jika dipahami secara keseluruhan akan menghasilkan pemahaman Islam yang menyeluruh.

Ali Syari’ati lebih lanjut menyatakan, ada berbagai cara dalam memahami Islam melalui metode perbandingan, yaitu:
Mengenal Allah SWT dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama lain
Mempelajari kitab Al-Qur'an dan membandingkannya dengan kitab-kitab ajaran agama lainnya
Mempelajari kepribadian Rasulullah dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaruan yang pernah hidup dalam sejarah.
Mempelajari tokoh-tokoh Islam tekemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran lain.

Selain menggunakan pendekatan perbandingan, ada cara lain dalam memahami Islam, yaitu dengan menggunakan pendekatan aliran. Pemahaman dengan pendekatan aliran menitik beratkan pada pemahaman Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia perseorangan maupun masyarakat.

Menurut Mukti Ali, terdapat metode lain dalam memahami Islam yaitu metode tipologi. Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif, berisi klasifikasi topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Terdapat lima aspek atau ciri dari agama Islam, yaitu 1) aspek ketuhanan, 2) aspek kenabian, 3) aspek kitab suci, 4) aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.

Dari uraian-uraian di atas, secara garis besar ada dua macam metode untuk memahami Islam. Pertama, metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya, dengan cara demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang objektif dan utuh. Kedua, metode sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, objektif, kritis, dengan metode teologis normative. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang tampak dalam kenyataan historis, empiris, dan sosiologis, sedangkan metode teologis normative digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normative ini seseorang memulainya dengan memahami Islam sebagai agama yang mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimana norma ajaran yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologis normative yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh, dan militant pada Islam, sedangkan dengan metode ilmiah yang tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.

Sedangkan menurut Ali Anwar Yusuf dalam bukunya Studi Agama Islam, terdapat tiga metode dalam memahami agama Islam , yaitu:

1. Metode Filosofis


Filsafat adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas segala sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan sedalam-dalamnya sejauh jangkauan kemampuan akal manusia, kemudian berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal dengan meneliti akar permasalahannya. Memahami Islam melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan tidak memiliki makna apa-apa atau kosong tanpa arti. Namun bukan pula menafikan atau menyepelekan bentuk ibadah formal, tetapi ketika dia melaksanakan ibadah formal disertai dengan penjiwaan dan penghayatan terhadap maksud dan tujuan melaksanakan ibadah tersebut.

2. Metode Historis


Metode historis ini sangat diperlukan untuk memahami Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan sangat berhubungan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Melalui metode sejarah, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya dan hubungannya dengan terjadinya suatu peristiwa.

3. Metode Teologi


Metode teologi dalam memahami Islam dapat diartikan sebagai upaya memahami Islam dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari satu keyakinan. Bentuk metode ini selanjutnya berkaitan dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang Islam dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Allah yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.

BAB III
KEGUNAAN MEMPELAJARI METODOLOGI STUDI ISLAM

a. Strategi Islamisasi Ilmu Pengetahuan


Sebagaimana diketahui bahwa salah satu gagasan yang paling canggih, amat komprehensif dan mendalam yang ditentukan dalam al-Qur`an ialah konsep ilmu. Pentingnya konsep ini terungkap dalam kenyataan bahwa al-Qur`an menyebut-nyebut kata akat dan kata turunannya sekitar 800 kali. Dalam sejarah peradaban muslim, konsep ilmu secara mendalam meresap kedalam seluruh lapisan masyarakat dan mengungkapkan dirinya dalam semua upaya intelektual. Tidak hanya ada peradaban lain dalam sejarah yang mamiliki konsep ilmu penngetahuan, dengan semangat nyang demikian tinggi dan mengejarnya dengan amat tekun seperti itu. Pertama,ilmu pengetahuan tersebut akan terus berkembang dinamis sesuai dengan tuntutan zaman, karena hanya ajaran Islamlah yang paling mementingkan ajaran ilmu pengetahuan. Kedua,masyarakat modern akan mendapatkan momentum kejayaan dan kesejahteraan yang seimbang, antara kesejahteraan yang bersifat material dengan kesejahteraan yang bersifat spiritual, sebagaimana hal ini pernah dialami umat Islam di zaman klasik. Ketiga,masyarakat modern akan merasakan tumbuh menjadi suatu kekuatan yang antara satu dan yang lainya saling membantu melalui ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini terjadi karena ilmu yang dimilikinya diarahkan untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Keempat, Islamisasi ilmu pengetahuan akan berdampak pada timbulnya konsep pendidikan yang ingrated antara ilmu agama dan ilmu umum. Dengan cara demikian dikhotomi kedua ilmu tersebut akan hilang dengan sendirinya.

b. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Melalui Pendidikan Islam


Dewasa ini, dunia Islam dihadapkan kepada suatu tantangan yang belum pernah dialami generasi terdahulu,yaitu pengaruh kebudayaan Barat yang hampir menyentuh seluruh aspek kehidupan. Pengaruh itu, wujudnya bukan sekadar produk tekhnologi, yang dalam batas tertentu memang bermanfaat; tetapi juga dibidang tata fikir yang sesungguhnya amat berbahaya. Terutama, pengeruh fikiran Barat ini merembes kedunia Islam melalui transformasi ilmu. Melalui “pasar ilmu”, maka terjadilah pencampur adukan konsep, bahkan juga cara berfikir dikalangan ilmuan.

Karena kedudukan kaum musilimin berada difihak yang lamah, maka transformasi pengaruh tersebut menjadi berat sebelah. Intinya, segala sesuatu yang datang dari Barat dianggaplah lebih baik, sehingga berbondong-bondong orang memakai dan menirunya. Sedemikian takut dan kagumnya bangsa Timur (temasuk kaum muslimin) terhadap apa saja yang memakai merk Barat, mereka campakkan milik sendiri karena dianggap jelek, walaupun terkadang tanpa pertimbangan yang matang. Peniruan secara besar-besaran semacam ini, juga berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan.

Sering ditemui, ilmuan kita sekarang luar biasa perannya dalam “membaratkan” masyarakat dan bangsanya sendiri, Bahkan, ilmuan yang berpredikat muslimpun tidak ketinggalan mengikuti jejaknya. Terbukti , misalnya dalam pemakaian konsep-konsep ilmiah. Peristilahan dari Barat dicocok-cocokkan untuk melambangkan ajaran Islam, sebaliknya istilah yang sebenarnya khas Islam dipaksakan untuk menyesuaikan diri dengan apa yang difahami orang Barat. Akibatnya , tentu saja umat Islam sendiri secara keseluruhan semakin jauh dari “bahasa’ agamanya.

Manyadari keadaan tersebut, bangkitlah sekelompok intelektual muslim untuk mencari jalan keluarnya. Khusus dalam segi ilmu, upaya itu diawali dari dalam, yaitu dengan manyusun klasifikasi ilmu Islam seperti yang juga telah dilakukan ulama terdahulu. Menurut Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, ilmu sebagai dimaksud terbagi menjadi dua : berian Allah dan capaian manusia. Yang telah diberikan oleh Allah adalah ilmu-ilmu agama, dan ini harus dipelajari setiap muslim, mengingat mutlak pentinganya untuk bimbingan hidup. Sedangkan ilmu-ilmu alam dan teknik, wajib dikuasai oleh sebagian umat Islam saja, jadi hukumnya fardhu kifayah.

Untuk ilmu agama Islam, perinciannya adalah sebagai berikut : al-Qur`an, al-Sunnah, al-Syari`ah, al-Tauhid, al- Tashawuf, dan ilmu-ilmu linguistik Islam. Sedangkan kelompok kedua, meliputi ilmu-ilmu rasional, intelektual dan filosofis, yang tercakup didalamnya : ilmu-ilmu kemanusiaan, ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu terapan dan ilmu-ilmu tekhnologi, dengan adanya pembagian seperti ini, akan mempermudah upaya untuk mengkontrol ilmu-ilmu tersebut supaya jangan sampai terjadi proses deislamisasi oleh akibat pengaruh Barat sebagaimana terlihat diatas.

Langkah itupun belum cukup. Masih diusahakan, agar ilmu-ilmu yang telah diklasifikasikan secara jelas tersebut, dalam praktiknya dapat berkembang dipangkuan Islam sendiri. Karena walaupun sudah diadakan klasifikasi, jika dibiarkan mandeg tak berkembang, jadinya sama saja seperti tidak ada usaha. Sebaliknya, dengan upaya pengembangan lebih lanjut, sekaligus akan berfungsi sebagai daya tangkal yang aktif untuk menolak satiap tantangan yang bisa mengakibatkan kerusakan. Cara pemeliharaan dan pengambangan ilmu-ilmu Islam di pangkuan kaum muslimin sendiri inilah, yang dimaksud dengan” Islamisasi ilmu”.

Sebagai usaha berencana, gagasan Islamiasasi ilmu hanya mungkin terlaksan dengan baik, apabila tesadia suatu sarana atau wadah yang bersifat permanen. Sarana atau wadah itu, tidak lain adalah lembaga pendidikan, khususnya tingkat perguruan tinggi, baik dengan istilah institut maupun Universitas. Ini bisa difahami, karena lambaga pendidikan tinggi memiliki semboyan kerja “pendidikan”, penelitian dan pengabdian.” Di sana terdapat potensi manusiawi (dosen, karyawan dan mahasiswa) yang pada umumnya memiliki idealisme dalam bidang keilmuan. Disamping itu, sifat universitas perguruan tinggi, memungkinkan diselenggarakannya pengembangan ilmu-ilmu Islam yang beraneka macam wujud kesatuan.

BAB IV
METODOLOGI STUDI ISLAM DAN HUBUNGAN DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA
Karakteristi Ajaran Islam

Selama ini kita sudah mengenal Islam, tetapi Islam dalam potret yang bagaimanakah yang kita kenal itu, tampaknya masih merupakan suatu persoalan yang perlu didiskusikan lebih lanjut. Misalnya mengenal Islam dalam potret yang ditampilkan Iqbal dengan nuansa filosofis dan sufistiknya. Islam yang ditampilkan Fazlur Rahman bernuansa historis dan filosofis. Demikian juga, Islam yang ditampilkan pemikir-pemikir dari iran seperti Ali Syari’ati, Sayyed Hussein Nasr, Murthada Munthahhari.

Pemikiran para ilmuan Muslim dengan mempergunakan berbagai pendekatan tersebut di atas kiranya dapat digunakan sebagai bahan untuk mengenal karakteristik ajaran Islam, tidak mencoba memperdebatkannya antara satu dan lainnya, melainkan lebih mencari sisi-sisi persamaannya untuk kemaslahatan umat umumnya dan untuk keperluan studi Islam pada khususnya.

A. Dalam Bidang Agama


Melalui karyanya berjudul Islam Doktrin dan Peradaban, Nurcholis Madjid banyak berbicara karakteristik ajaran Islam dalam bidang agama. Menurutnya, bahwa dalam bidang agama Islam mengakui adanya pluralisme. Pluralisme menurut Nurcholis Madjid adalah aturan Tuhan (Sunnah Allah) yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.

Karakteristik agama Islam dalam visi keagamaannya bersifat toleran, pemaaf, tidak memaksakan dan saling menghargai karena dalam pluralitas agama tersebut terdapat unsur kesamaan yaitu pengabdian pada Tuhan.

B. Dalam Bidang Ibadah


Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dikenal melalui konsepsinya dalam bidang ibadah. Secara harfiah ibadah berarti bakti manusia kepada Allah Swt, karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid.

Visi Islam tentang ibadah merupakan sifat, jiwa, dan misi ajaran Islam itu sendiri yang sejalan dengan tugas penciptaan manusia, sebagai makhluk yang hanya diperintahkan agar beribadah kepada-Nya.

C. Bidang Akidah


Dalam Kitab Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengartikan akidah menurut bahasa adalah menghubungkan dua sudut sehingga bertemu dan bersambung secara kokoh. Ikatan tersebut berbeda dengan terjemahan kata ribath yang artinya juga ikatan tetapi ikatan yang mudah dibuka, karena akan mengandung unsur yang membahayakan.

Karakteristik Islam yang dapat diketahui melalui bidang akidah ini adalah bahwa akidah Islam bersifat murni baik dalam isinya maupun prosesnya.

D. Bidang Ilmu dan Kebudayaan


Karakteristik Islam dalam bidang ilmu dan kebudayaan bersikap terbuka, akomodatif, tetapi juga selektif. Islam adalah paradigma terbuka. Ia merupakan mata rantai peradaban duni. Dalam sejarah kita melihat Islam mewarisi peradaban Yunani-Romawi di Barat dan peradaban-peradaban Persia, Indi dan Cina di Timur.

Karakteristik Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan dapat dilihat dari 5 ayat pertama surat Al-Alaq yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad Saw. Pada ayat tersebut terdapat kata iqra’ yang diulang sebanyak dua kali. Kata tersebut menurut A.Baiquni, selain berarti membaca dalam arti biasa, juga berarti menelaah, mengobservasi, membandingkan, mengukur, mendiskripsikan, menganalisis dan penyimpulan secara induktif.

E. Bidang Pendidikan

Islam memaandang bahwa pendidikan adalah hak bagi setiap orang (education for all), laki-laki atau perempuan dan berlangsung sepanjang hayat (long life education).

F. Bidang Sosial


Ajaran Islam dalam bidang sosial ini termasuk yang paling menonjol karena seluruh bidang ajaran Islam sebagaimana telah disebutkan di atas pada akhirnya ditujukan untuk kesejahteraan manusia.

Menurut penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat, Islam ternyata agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah. Islam ternyata banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek kehidupan ritual.

G. Dalam Bidang Kehidupan Ekonomi


Karakteristik ajaran Islam selanjutnya dapat dipahami dari konsepsinya dalam bidang kehidupan. Islam memandang bahwa kehidupan yang harus dilakukan manusia adalah hidup yang seimbang dan tidak terpisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Urusan dunia dikejar dalam rangka mengejar kehidupan akhirat dan kehidupan akhirat dicapai dengan dunia. Kita membaca hadis nabi yang diriwayatkan oleh Ibn Mubarak yang artinya : Bukanlah termasuk orang yang baik di antara kamu adalah orang yang meninggalkan dunia karena mengejar kehidupan akhirat, dan orang yang meninggalkan akhirat karena mengejar kehidupan dunia. Orang yang baik adalah orang yang meraih keduanya secara seimbang, karena dunia adalah alat menuju akhirat, dan jangan dibalik yakni akhirat dikorbankan untuk urusan dunia.

H. Dalam Bidang Kesehatan


Ajaran Islam tentang kesehatan berpedoman pada prinsip pencegahan lebih diutamakan daripada penyembuhan. Berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan banyak petunjuk kitab suci dan sunnah Nabi Muhammad Saw. yang pada dasarnya mengerah pada upaya pencegahan diantaranya. Surat Al-Baqarah , 2:222) yang artinya : Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan senang kepada orang-orang yang membersihkan diri. Selain itu Surat Al-Mudatsir 74:4-5) yang artinya : Dan bersihkanlah pakaianmu dan tinggalkanlah segala macam kekotoran.

I. Dalam Bidang Politik


Dalam Alquran Surat An-Nisa’ ayat 156 terdapat perintah menaati ulil amri yang terjemahannya termasuk penguasa di bidang politik, pemerintahan dan negara. Islam menghendaki suatu ketaatan kritis yaitu ketaatan yang didasarkan pada tolak ukur kebenaran dari Tuhan. Jika pemimpin tersebut berpegang teguh pada tuntutan Allah dan rasul-Nya maka wajib ditaati. Sebaliknya, jika pemimpin tersebut bertentangan dengan kehendak Allah dan rasul-Nya, boleh dikritik atau diberi saran agar kembali ke jalan yang benar dengan cara-cara yang persuasif. Dan jika cara tersebut juga tidak dihiraukan oleh pemimpin tersebut, boleh saja untuk tidak dipatuhi.

J. Dalam Bidang Pekerjaan


Islam memandang bahwa kerja sebagai ibadah kepada Allah Swt. Atas dasar ini maka kerja yang dikehendaki Islam adalah kerja yang bermutu, terarah pada pengabdian terhadap Allah Swt, dan kerja yang bermanfaat bagi orang lain.

Untuk menghasilkan produk pekerjaan yang bermutu, Islam memandang kerja yang dilakukan adalah kerja profesional, yaitu kerja yang didukung ilmu pengetahuan, keahlian, pengalaman, kesungguhan dan sebagainya.

K. Islam Sebagai Disiplin Ilmu


Islam juga telah tampil sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu keislaman. Menurut peratutan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 1985, bahwa yang termasuk disiplin ilmu keislaman adalah Alquran/Tafsir, Hadis/Ilmu Hadis, Ilmu Kalam, Filsafat, Tasawuf, Hukum Islam (Fiqih), Sejarah dan Kebudayaan Islam serat Pendidikan Islam.

Islam sebenarnya mempunyai aspek teologi, aspek ibadah, aspek moral, aspek mistisisme, aspek filsafat, aspek sejarah, aspek kebudayaan dan sebagainya.

KESIMPULAN


Dari pembahasan di atas penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan.
Metodologi dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam.
Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya menyebabkan Islam dipahami sesuai dasar keyakinan masyarakatnya.
Studi Islam sangat penting karena sangat berperan dalam masyarakat. Studi Islam bertujuan untuk mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat inter dan antar agama.
Dalam memahami Islam dapat digunakan beberapa metode, di antaranya metode filosofis, historis, dan teologis.

Berawal dari sebuah pandangan bahwa ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat ini telah terkontaminasi pemikiran barat sekuler dan cenderung ateistik yang berakibat hilangnya nilai-nilai religiusitas dan aspek kesakralannya. Di sisi lain, keilmuan Islam yang dipandang bersentuhan dengan nilai-nilai teologis, terlalu berorientasi pada religiusitas dan spiritualitas tanpa memperdulikan betapa pentingnya ilmu-ilmu umum yang dianggap sekuler. Menyebabkan munculnya sebuah gagasan untuk mempertemukan kelebihan-kelebihan diantara keduanya sehingga ilmu yang dihasilkan bersifat religius dan bernafaskan tauhid, gagasan ini kemudian dikenal dengan istilah "Islamisasi Ilmu Pengetahuan".

Sedangkan manfaat yang kita dapat rasakan dari Islamisasi Ilmu Pengetahuan antara lain:
Setidaknya kita selaku Umat Islam tidak menjadi kafir dan kehilangan arah dalam hal keimanan dalam melihat berbagai fenomena ilmu pengetahuan.
Kita sebagai umat yang percaya kepada Wahyu Allah yang memberikan landasan berbagai ilmu sehingga tidak terjadi dikotomi dalam ilmu pengetahuan.
Kita sebagai hamba Allah akan semakin dekat kepada-Nya.

BAB V
PENUTUP


Demikian makalah yang dapat kami sampaiakan kurang lebihnya mohon dimaafkan, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, jika ada kesalahan mohon di ingatkan dan dibenarkan, sebagai perbaikan kami ke depan. Semoga apa yang tertera dalam makalah ini dapat membawa manfaat untuk kita semua dan bisa menambah wawasan kita semua.

0 komentar:

Poskan Komentar

Paling Banyak Dikunjungi

Total Tayangan Laman